Ujian akhir nasional, tiga kata inilah yang saat ini menjadi momok
yang sangat menakutkan bagi pelajar-pelajar yang duduk di sekolah
menengah pertama atau menengah atas. Saat mulai menduduki
kelas akhir mereka langsung mendapatkan hantu yang berupa
standar nilai kelulusan yang harus mereka capai.
Tentu hal ini memiliki dampak positif dan negative bagi siswa
tersebut, selain itu banyak sekali fenomena yang terjadi pasca
pemerintah menetapkan kebijakan ini pada tahun ajaran 2003 yang
pertama kali diberlakukan.
Sekolah adalah sebuah batu loncatan dalam memperoleh masa depan
yang tentunya banyak dimiliki oleh setiap orang, dalam keadaan
yang semakin menekan masyarakat kecil ditambah dengan segala
biaya yang selalu berganti harga menambah daftar penderitaan.
Kini ancaman versi lain pun tengah bergejolak dengan standar nilai
kelulusan tentu menjadi sebuah hal yang akan menentukan masa
depan seorang warga Negara Indonesia.
Seiring perjalanan selama empat tahun ini berbagai polemik pun
salah silih berganti menyangkut hantu yang bernama standar nilai
kelulusan ini, dimulai dengan banyaknya peristiwa siswa yang
melakukan bunuh diri karena tidak lulus, serta depresi yang banyak
melanda serta banyak hal lainnya.
Dengan singkat kata “standar nilai kelulusan” ini lebih banyak
mudharatnya daripada manfaatnya. Yang menjadi pertanyaan besar
apakah “ standar nilai kelulusan” ini menjadi sebuah faktor
objektivitas dalam menentukan kualitas pendidikan Indonesia?
Tentu jika jawabannya tidak maka hal ini sangat amat menjadi ironi
dalam dunia pendidikan Indonesia yang terbilang semrawut.
Ada hal lucu yang menunjukkan bagaimana kontrasnya sistem
pendidikan saat ini dengan metode multiple choice yang saat ini
masih diterapkan di dunia pendidikan Indonesia saat ini. Banyak
siswa yang terbilang memiliki prestasi serta cukup memiliki potensi
di kelas 1 dan kelas 2 tetapi hancur oleh hanya Ujian Akhir Nasional
yang hanya berlangsung selama 3 hari. Lalu dimana tingkat
objektivitas dalam sistem pendidikan saat ini? Apakah sistem
pendidikan saat ini lebih mirip ke judi yang selalu mengandalkan
peruntungan? Tentu pertanyaan ini ditujukan bagi kita generasi
penerus bangsa yang semrawut ini yang telah banyak
mengorbankan rakyatnya.
Kutip & edit from: Dierdzarghifari (blogdetik)
Senin, 01 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar